belasan-tahun-meniti-karir-di-dunia-it-sempat-menghindari-coding-1

Belasan Tahun Meniti Karir pada Dunia IT, Sempat Menghindari Coding

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Jakarta, Selular. ID – Bagi wanita Indonesia, hari ini ialah hari yang istimewa. Sebagaimana kita ketahui 21 April merupakan hari lahir Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, atau lebih dikenal secara RA. Kartini. Hari lahirnya ini kemudian dikenal sebagai Hari Kartini sejak penetapan pada 1964.

Berkat perjuangan dan pemikirannya, perempuan Indonesia bisa sesuai sekarang. Perempuan tak lagi cuma berurusan dengan “Masak, Macak, Manak” (memasak, berdandan, melahirkan), tapi juga berbagai hal yang sebelumnya hanya menyatu pada kaum Adam.

Dan saat itu banyak ditemui Kartini berkuasa yang bekerja keluar daripada zonanya, seperti di bidang Information technology (IT) dengan lekat dengan kaum umat. Salah satunya adalah Tina Lusiana, yang merupakan Vice President of IT Business Intelligence& Analytics at PT Telkomsel. Namun jika melihat latar belakang pendidikannya, dunia IT bukanlah hal baru baginya. Tina merupakan keluaran ITB, Bandung yang adalah Univesitas yang cukup penuh melahirkan tokoh-tokoh hebat pada bidang IT.

Wanita ini salah satu sosok yang memegang kontribusi penting di perusahaan operator nomor satu di Nusantara ini. Tina sudah 13 tahun bergabung di Telkomsel, namun menurutnya Telkomsel bukanlah perusahaan pertama dirinya meniti karir. Sejak Lulus kuliah tahun 2016, Tina pertama kali bekerja di suatu software consulting company di kota Bandung, yang berfokus pada enterprise framework and corporate solution.

“Saya mengawali karier di Telkomsel di awal 2017 dengan bergabung sebagai staff di bidang IT. Masa pertama kali merintis karier di Telkomsel, saya diberikan tanggung jawab untuk melayani konfigurasi pricing pada charging/billing system. Kemudian saya tahu diberikan amanah sebagai Enterprise Architect selama 1. 5 tahun sebelum akhirnya saya dipindahkan ke domain pengolahan data dan mendapatkan amanah untuk mengelola IT Business Intelligence & Analytics hingga saat ini, ”ujar Tina.

Menghindari Coding

Label dunia IT yang identik lahan pria, tak membuatnya terbebani. Sejak  hidup di Telkomsel, ibu tiga anak ini tidak mengalami sedikit pun diskriminasi gender, baik dalam hal pemberian kesempatan untuk pengembangan karir/capability maupun dalam pengakuan/recognition terhadap achievement. Equality pun valid dalam delegasi pekerjaan, dukungan kesehatan, dan lain-lain.

Selain itu, total leader wanita di Telkomsel baik dalam domain teknis maupun bisnis pun tidak sedikit. Telkomsel telah menerapkan gender equality dengan efektif.
Meski begitu pekerjaan yang dilakoni tidak semuanya berjalan mulus dan beroperasi sesuai dengan kemampuannya. Diakui Tina, kendati bekerja d bidang Teknologi, di asal karir sempat menghindari order yang terkait coding, karena merasa tidak mampu.

“Tetapi ketika bergabung di Telkomsel, saya diberi tanggung jawab yang membutuhkan skill coding. Dengan terdesak, awalnya saya jalani, namun hal itu tidak pernah saya sesali. Mempelajari kejadian yang saya hindari dalam akhirnya mampu mendobrak kewaswasan yang sebelumnya saya rasakan, ”tutur Tina.

Dari pengalaman bekerja dalam domain IT selama 14 tahun, dan berinteraksi dengan beberapa orang, dirinya mulai melakoni bahwa tidak ada memperlawankan yang fundamental antara laki-laki dan perempuan dalam attitude dan skill.

Menurutnya sebuah hasil penelitian pun menunjukkan produktivitas perempuan tidak kalah dengan pria. Disini dia melihat kalau peran dari laki-laki & perempuan cukup saling menyamakan satu sama lain, sehingga dalam membangun tim, tetap memastikan bahwa role/responsibility terbatas yang memerlukan analisa detail, multitasking, interaksi dan afeksi akan ditempati oleh laki-laki dan perempuan.

“Dalam perspektif lain, kami melihat bahwa perempuan perlu lebih aktif dalam mengakses informasi serta membangun kepercayaan diri, ”kata Tina sedang

Pengganggu Selama Bergabung di Telkomsel

Mula-mula kali bergabung di awak IT Telkomsel, Tina mengesahkan merasa kurang percaya muncul dengan kompetensi, salah satunya karena jumlah wanita dalam tim IT saat itu masih sangat sedikit dibandingkan laki-laki. Tina mencoba buat menjalani pekerjaan dengan tentu berfokus pada hal pasti. Di saat yang sebanding pun terus belajar untuk memahami kelebihan dan kejelekan yang perlu Tina improve.

Kesulitan asing yang dihadapi sebagai perempuan pada umumnya adalah kala melahirkan. Dikatakan Tina, dia tetap ingin mengembangkan daya, tanpa harus mengorbankan keluarga. Karena baginya peran seorang Ibu adalah sangat tumbuh dalam pembentukan karakter serta pendidikan anak. dan seiring dengan waktu, Tina membiasakan untuk menetapkan prioritas- barang apa yang penting dalam situasi tertentu.

“Meluangkan waktu untuk self-improvement, me-time dan family time, langgeng memaintain social interaction, dan memberi room untuk imperfection, tidak untuk menjustifikasi noda yang kita sadari, tapi untuk melihat potensi self-improvement. Sejak itu perlahan kami mulai menikmati peran dengan saya yang juga sebagai pekerja dan ibu, ’ ungkap Tina.

Wanita yang memiliki pedoman khtiar, bersyukur dan ikhlas, Tina juga memiliki dasar tidak pernah ragu-ragu buat menantang diri sendiri, Tina meyakini bahwa tanggungan dengan diemban adalah amanah.

Sementara dalam situasi teknologi, prinsip Tina merupakan stay hungry untuk menelaah sesuatu yang baru, tanpa malu untuk berinovasi dan belajar beradaptasi dengan mengkudu kerja yang cepat. Serta yang terpenting, mental dengan kuat dan selalu membenarkan diri dengan kemampuan kita.

Peran Ibu

Kondisi pandemi saat itu pun menjadi tantangan untuk ibu pekerja seperti Tina, di awal pandemi, stres menghampiri, karena perlu menjelma guru pendamping bagi anak-anak dalam mendukung pembelajaran jangka jauh, serta menyelesaikan tanggung jawab kantor dan urusan domestik di rumah pada zaman yang sama. Kondisi seperti ini membuat dirinya belajar memenggal waktu di sela-sela meeting, untuk mendampingi anak menelaah dan mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah dengan anggota tim lain. Dukungan dari suami dan keluarga, menjadi penyemangat baginya.

Sebagi wanta pekerja di Pabrik telekomunikasi, Tina pun mempunyai pengalaman terkait telpon, internet, handphone dan media sosial. Karena berkarier di bidang telekomunikasi, tidak jarang Tina diminta bantuan oleh lingkungan untuk menyelesaikan segala permasalahan seputar gadget, mulai sejak kuota internet yang beres, setting ponsel. Sehingga Tina melihat bahwa setiap pribadi perusahaan memiliki peranan penting sebagai agen yang positif memberikan jalan atau solusi bagi customer yang sedang terkendala.

Terkait media sosial, Tina tahu komentar atau feedback sebab publik yang disampaikan meniti media sosial sebagai instrumen bagi perusahaan untuk mendengarkan customer voice, sehingga melakoni sentimen mereka dalam waktu yang cepat menjadi hal yang cukup krusial. Hal ini sangat dimungkinkan dengan adanya pemanfaatan teknologi big data dan machine learning.

Memahami kalau satu minggu, sebagaian waktunya banyak dilakukan untuk bekerja, sehingga waktu memasak menu-menu favorit yang diminta sebab anak-anak. Menurutnya, hal itu selain mendekatkan diri dengan keluarga kecilnya, juga supaya mereka tidak lupa dengan masakannya.

Formal Education

Bachelor of Informatics, Faculty of Industry Technology, Institut Teknologi Bandung, 2006

Invited Talks and Teach

*Konferensi Big Data Indonesia 2016, Big Data as Business Performance Monitoring and Optimization Enabler in Telecommunication Industries, December 7, 2016
*Guest Lecturer 2017-2018, Telkom University for Data Science Course
*Informal Talk of Indonesia Muda Club at Kementerian BUMN: WFH vs WFO, November 2020
*OfficeHour Webinar with RuangKerja: Strategies to Scale Up the Business with Technology, December 2020