Tersebut Alasan Terjadinya Peningkatan Penggunaan E-Wallet Selama Pandemi Menurut Survei MarkPlus

Rabu, 02 September 2020 • 17: 10

Pembicaraan non-tunai dianggap memiliki banyak nama dibanding transaksi tunai. Apalagi semasa pandemi, beragam usaha dilakukan buat mengurangi risiko penularan COVID-19. Taat Bank Indonesia, terjadi kenaikan pembicaraan digital atau Uang Elektronik (UE) semenjak pemberlakuan PSBB yang mencapai 64, 48% dan volume pembicaraan digital bertumbuh 37, 35% dengan tahunan.

Melihat situasi ini, MarkPlus, Inc. menggelar survey penggunaan dompet digital dalam tiga bulan terakhir. Lewat total 502 responden terpilih yang mewakili kota-kota besar dengan penetrasi penggunaan smartphone tertinggi di Indonesia.

“Dari hasil survei tersebut, kami melihat adanya kecenderungan penambahan transaksi secara digital, karena umum lebih memilih memenuhi kebutuhannya secara online. Berangkat dari situ, saya ingin melihat merek mana yang memiliki pangsa pasar jumlah atau volume transaksi tertinggi dalam 3 bulan terakhir. Di sini ShopeePay unggul dengan pangsa pasar sebesar 26% dari total volume transaksi e-wallet di Indonesia, disusul OVO (24% dari total), GoPay (23% dari total), kemudian DANA (19% dari total) dan LinkAja (8% dari total), ” kata Head of High Tech, Property & Consumer Goods Industry MarkPlus, Inc. Rhesa Dwi Prabowo dalam konferensi pers virtual pada Rabu (2/9) 2020.

Rhesa juga mengungkapkan kalau rata-rata orang Indonesia tidak patuh dalam memilih e-Wallet. Pengguna e-Wallet Indonesia lebih cenderung menggunakan lebih dari satu e-Wallet dan lebih memprioritaskan pada promo, potongan kehormatan dan cash back.

Selain perubahan kebiasaan belanja menjadi online, Rhesa menuturkan kalau integrasi ShopeePay dengan Shopee sebagai satu diantara platform e-commerce terbesar, mampu menangkap peluang dengan berbagai permohonan menarik sehingga nilai transaksinya tetap meningkat. Selain itu, ilustrasi tingginya penggunaan dompet digital juga tergambar dalam survei, di mana ShopeePay kembali menjadi merek paling kala digunakan di masa pandemi, secara frekuensi transaksi rata-rata mencapai 7X tiap bulannya. Disusul oleh PERSEDIAAN dengan rata-rata penggunaan sebanyak enam, 4X tiap bulan, OVO secara rata-rata 6, 2X tiap bulan, GoPay rata-rata 6, 1X setiap bulan, dan LinkAja rata-rata 5, 7X tiap bulan.

Tingginya penetrasi dompet digital biasanya tumbuh berdefile dengan kepercayaan para pengguna, tercatat nilai transaksi per bulan yang dialokasikan ke dalam merek-merek dompet digital tersebut. Di masa pandemi, ShopeePay lagi-lagi berhasil menempati peringkat pertama dengan total nominal pembicaraan terbesar per bulan sekitar Rp 149. 000, unggul dibandingkan LinkAja, DANA, dan OVO  di sekitar Rp 134. 000, serta GoPay sekitar Rp 109. 000.

Dengan nominal transaksi per bulan tersebut, ShopeePay kembali ulung berdasarkan total nilai transaksi secara pangsa pasar 29%, diikuti OVO dengan 24%, GoPay dengan 19%, DANA dengan 19%, dan LinkAja dengan 8%. Sehingga, ShopeePay menjadi dompet digital paling sering dimanfaatkan dengan hasil sebanyak 30% responden, yang kembali diikuti OVO dengan 25%, GoPay dengan 21%, SEDEKAH dengan 18%, serta LinkAja dengan 5%.

“Konsolidasi dompet digital serta platform e-commerce dari tahun ke tahun kian menjadi resep sukses untuk mendongkrak kesempatan memimpin rekan. Dalam konteks pandemi, integrasi tersebut tentunya semakin mempermudah pengalaman belanja online masyarakat. Selain pengalaman belanja efektif dan efisien, integrasi tersebut sering diidentikan dengan penawaran promo atraktif yang dapat menaikkan gaya beli pembeli. Faktor ini serupa yang membuat 53% responden memilah ShopeePay sebagai merek dompet digital yang dianggap paling memudahkan pengalaman belanja online, mengungguli OVO (20%), GoPay dan DANA (masing-masing 13%), dan LinkAja (2%). Selain itu, ShopeePay (38%) juga terpilih jadi merek dompet digital yang dianggap memberikan promosi paling banyak kalau dibandingkan dengan OVO (28%), GoPay (20%), DANA (11%), dan LinkAja (3%), ” tutup Rhesa.